← Kembali ke Gen Z Ngaji

Capek Nyenengin Semua Orang? Emang Nggak Akan Pernah Cukup

Capek Nyenengin Semua Orang? Emang Nggak Akan Pernah Cukup

Kamu selalu bilang "iya" walau pengen nolak. Takut mengecewakan, takut dibenci, takut nggak diterima. Jadilah kamu bunglon — nyesuaiin diri ke semua orang sampai lupa siapa dirimu sendiri. Dan anehnya, makin keras kamu berusaha nyenengin semua orang, makin capek dan kosong rasanya.

Itu karena kamu lagi ngejar sesuatu yang secara matematis mustahil.

1. Ridha semua manusia itu target yang gagal dari awal

Imam Syafi'i pernah berkata dengan indah: "Ridha seluruh manusia adalah tujuan yang mustahil digapai." Logikanya sederhana: selera manusia beda-beda, dan sering bertentangan. Yang satu suka kamu diam, yang lain nganggep kamu sombong. Yang satu suka kamu ceria, yang lain nganggep kamu berisik. Mau senengin yang mana? Kamu bakal muter tanpa henti dan nggak pernah sampai. Bahkan Rasulullah ﷺ — manusia terbaik — masih ada yang membenci. Apalagi kita.

2. Ada satu ridha yang menyelesaikan semuanya

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mencari ridha Allah meskipun mengundang kemarahan manusia, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia ridha padanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan mengundang kemarahan Allah, maka Allah murka padanya dan menjadikan manusia murka padanya." (HR. Tirmidzi)

Ini plot twist-nya: pas kamu berhenti ngejar approval manusia dan mulai fokus ke ridha Allah, justru penerimaan manusia sering datang dengan sendirinya. Karena orang secara fitrah menghormati mereka yang punya prinsip, bukan yang gampang diombang-ambing. Berhenti jadi bunglon, mulai jadi diri sendiri yang berpegang pada kebenaran.

3. Bilang "tidak" itu bukan dosa

Kamu boleh menolak. Kamu boleh punya batas. Menjaga diri dari kelelahan dan dimanfaatkan itu bukan egois — itu bagian dari menunaikan hak dirimu sendiri, yang juga Allah perintahkan. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tubuhmu punya hak atasmu, jiwamu punya hak atasmu. People pleasing yang berlebihan justru melanggar hak-hak itu.

4. Latihan pelan-pelan

  • Sebelum bilang "iya", jeda sebentar. Tanya: aku setuju karena yakin, atau karena takut ditolak?

  • Latih bilang "maaf, aku nggak bisa" tanpa ngasih 1000 alasan. Kalimat itu udah cukup

  • Tiap ambil keputusan, tanya dulu: "Allah ridha nggak sama ini?" — bukan "orang bakal suka nggak?"

  • Inget: kamu nggak diciptakan buat jadi versi yang semua orang mau. Kamu diciptakan buat jadi hamba yang Allah ridhai

Berhenti melelahkan diri mengejar tepuk tangan yang nggak akan pernah lengkap. Kejar ridha Satu yang kalau Dia ridha, semua urusanmu — termasuk penerimaan manusia — jadi beres dengan sendirinya.

— Kang Andri Lupias
Pembina Attasis Masjid Peradaban