← Kembali ke Materi
Khutbah Jumat

Keajaiban Shalawat

Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-05

Keajaiban Shalawat
Unduh PDF(113 KB)

KHUTBAH PERTAMA

Mukadimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ada satu amalan yang sangat ringan di lisan, namun keajaibannya luar biasa: ia satu-satunya perintah yang Allah sendiri "melakukannya" bersama para malaikat-Nya sebelum memerintahkannya kepada kita. Amalan itu adalah shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Maka pada hari Jumat yang mulia ini — hari yang paling dianjurkan memperbanyak shalawat — mari kita selami keajaiban shalawat.


1. Ayat Al-Qur'an dan Tafsirnya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Jamaah yang dimuliakan Allah, para ulama tafsir mu'tabar menjelaskan ayat ini:

Pertama, Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'anil 'Azhim: Allah mengabarkan kedudukan Nabi ﷺ di sisi-Nya di alam tertinggi — Allah memujinya di hadapan para malaikat, dan para malaikat pun bershalawat untuknya. Kemudian Allah memerintahkan penduduk bumi untuk bershalawat dan bersalam kepadanya, agar terhimpunlah pujian penduduk langit dan penduduk bumi untuk beliau seluruhnya.

Kedua, Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam Jami'ul Bayan: shalawat Allah atas Nabi-Nya bermakna rahmat dan pujian-Nya, shalawat malaikat bermakna doa dan permohonan ampun untuk beliau, sedangkan shalawat orang beriman adalah doa agar Allah melimpahkan rahmat dan kemuliaan kepada beliau. Ini adalah perintah yang tegas bagi kaum mukminin.

Ketiga, Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an: ayat ini menunjukkan keagungan kedudukan Nabi ﷺ yang tidak diberikan kepada selainnya. Tidak ada satu pun ibadah yang Allah kabarkan bahwa Dia dan para malaikat-Nya "melakukannya" lalu memerintahkan kaum beriman menyertainya, kecuali shalawat — maka ini menjadi dalil kemuliaan shalawat dan kewajibannya atas umat.


2. Hadits Shahih

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim no. 408)

Khusus untuk hari Jumat, beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian diperlihatkan kepadaku." (HR. Abu Dawud no. 1047, sahih)

Jamaah rahimakumullah, renungkanlah keajaibannya: kita yang lemah ini bershalawat satu kali, lalu Allah — Rabb semesta alam — membalas dengan sepuluh shalawat untuk kita. Dan pada hari Jumat ini, setiap shalawat kita diperlihatkan langsung kepada Rasulullah ﷺ.


3. Qoul Ulama

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ

"Sesungguhnya doa itu terhenti di antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun darinya, hingga engkau bershalawat kepada Nabimu." (Riwayat Tirmidzi no. 486)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab khusus Jala'ul Afham menghimpun lebih dari empat puluh faedah dan keajaiban shalawat — di antaranya: sebab turunnya shalawat Allah, terangkatnya derajat, terhapusnya dosa, terkabulnya doa, dan dekatnya seorang hamba dengan Nabi ﷺ pada hari kiamat.

Al-Qadhi 'Iyadh rahimahullah dalam Asy-Syifa menjelaskan bahwa shalawat adalah penunaian sebagian kecil dari hak Nabi ﷺ atas umatnya, sekaligus tanda kebenaran cinta seorang mukmin kepada beliau; siapa yang benar cintanya, banyaklah shalawatnya.


4. Kisah Tauladan: Ubay bin Ka'b dan Seluruh Doanya

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Diriwayatkan dari sahabat mulia Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu: ia bertanya, "Wahai Rasulullah, aku banyak bershalawat kepadamu; berapa bagian dari doaku yang sebaiknya kujadikan shalawat untukmu?"

Beliau menjawab, "Terserah engkau." Ubay berkata, "Seperempat?" Beliau menjawab, "Terserah engkau; jika engkau tambah, itu lebih baik bagimu." Ubay terus menaikkan — sepertiga, separuh, dua pertiga — dan jawaban beliau sama. Hingga akhirnya Ubay berkata, "Kalau begitu, aku jadikan seluruh doaku shalawat untukmu." Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

"Jika demikian, akan dicukupkan (dihilangkan) kegelisahanmu dan diampuni dosamu." (HR. Tirmidzi no. 2457, hasan sahih)

Subhanallah! Inilah keajaiban yang dijanjikan langsung oleh Rasulullah ﷺ: shalawat menjadi penyelesai kegelisahan hidup dan penghapus dosa. Para ulama menjelaskan maknanya: barangsiapa menyibukkan lisannya dengan shalawat, Allah sendiri yang akan mengurus urusan dunia dan akhiratnya.

5. Lima Keajaiban Shalawat

Jamaah rahimakumullah, inilah lima keajaiban shalawat yang dijanjikan dalam dalil-dalil yang sahih:

Keajaiban Pertama: Dibalas Sepuluh Kali Lipat oleh Allah. "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat." (HR. An-Nasa'i no. 1297, sahih) Satu kalimat ringan: sepuluh shalawat Allah, sepuluh dosa gugur, sepuluh derajat naik.

Keajaiban Kedua: Paling Dekat dengan Nabi ﷺ di Hari Kiamat. "Manusia yang paling utama (paling dekat) denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR. Tirmidzi no. 484, hasan) Ingin berada di dekat beliau pada hari yang paling menentukan? Perbanyaklah shalawat.

Keajaiban Ketiga: Salam Kita Disampaikan Langsung kepada Beliau. "Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di bumi, menyampaikan kepadaku salam dari umatku." (HR. An-Nasa'i no. 1282, sahih) Ada malaikat khusus yang bertugas membawa shalawat dan salam kita kepada Rasulullah ﷺ.

Keajaiban Keempat: Jalan Meraih Syafaat. "…Kemudian bershalawatlah kepadaku… lalu mintakanlah kepada Allah wasilah untukku… Barangsiapa memintakan wasilah untukku, ia berhak mendapat syafaatku." (HR. Muslim no. 384) Rangkaian shalawat setelah adzan membuka pintu syafaat beliau ﷺ.

Keajaiban Kelima: Pembebas dari Hakikat Kebakhilan. "Orang yang bakhil (sesungguhnya) adalah orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku." (HR. Tirmidzi no. 3546, hasan sahih) Bakhil yang sesungguhnya bukan soal harta; orang yang enggan menggerakkan lisan untuk shalawat, itulah yang paling kikir terhadap dirinya sendiri.

Jamaah rahimakumullah, maka jadikanlah shalawat napas keseharian kita: setelah adzan, dalam tasyahud, pembuka dan penutup doa, serta perbanyaklah pada hari dan malam Jumat. Amalan ringan, balasannya ajaib.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dari khutbah pertama dapat kita simpulkan tiga hal:

Pertama, shalawat adalah satu-satunya amal yang Allah dan para malaikat-Nya "melakukannya", lalu kita diperintahkan menyertainya (QS. Al-Ahzab: 56) — cukuplah ini sebagai bukti keagungannya.

Kedua, keajaibannya nyata: satu shalawat dibalas sepuluh, dosa dihapus, derajat diangkat, kegelisahan dicukupkan, doa terangkat, salam tersampaikan, dan syafaat menanti.

Ketiga, amalkanlah: perbanyak shalawat setiap hari, terutama pada hari dan malam Jumat, setelah adzan, dan di setiap doa kita.

Marilah kita tutup khutbah ini — dan mengamalkan langsung isi khutbahnya — dengan bershalawat dan berdoa kepada Allah:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

Ya Allah, curahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang ingkar.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

أَقِمِ الصَّلَاةَ.