← Kembali ke Materi
Khutbah Jumat

Siapakah Ismail Kita

Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-05

SIAPAKAH ISMAIL KITA
Unduh PDF(111 KB)

KHUTBAH PERTAMA

Mukadimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Renungkanlah: Nabi Ibrahim 'alaihissalam menanti puluhan tahun untuk mendapatkan seorang putra. Ketika Ismail lahir dan tumbuh menjadi anak kesayangan, justru saat itulah Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Para ulama menjelaskan: yang Allah kehendaki bukanlah darah Ismail, melainkan tersembelihnya rasa kepemilikan di hati Ibrahim — agar tidak ada satu pun cinta yang menyaingi cinta kepada Allah. Maka pertanyaannya untuk kita hari ini: siapakah "Ismail" kita?


1. Ayat Al-Qur'an dan Tafsirnya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۖ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102)

Jamaah yang dimuliakan Allah, para ulama tafsir mu'tabar menjelaskan ayat ini:

Pertama, Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'anil 'Azhim: mimpi para nabi adalah wahyu, maka perintah dalam mimpi itu adalah perintah Allah. Ibrahim memberitahukannya kepada sang anak agar lebih ringan baginya dan untuk menguji kesabarannya sejak dini. Jawaban Ismail — "lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu" — menunjukkan kesempurnaan adab, ketaatan kepada Allah, dan bakti kepada orang tua.

Kedua, Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam Jami'ul Bayan: Allah menguji kekasih-Nya dengan sesuatu yang paling dicintainya untuk menampakkan kesempurnaan penghambaan ayah dan anak sekaligus. Keduanya berserah diri (aslama) — dan itulah hakikat Islam: tunduk total kepada perintah Allah meski bertentangan dengan keinginan hati.

Ketiga, Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an: inilah al-bala'ul mubin, ujian yang nyata dan terberat. Kecintaan kepada anak tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah. Ketika Ibrahim membuktikan bahwa cintanya kepada Allah di atas segala-galanya, Allah pun menebus Ismail — pertanda bahwa yang dituntut adalah kerelaan hati melepas, bukan kebinasaan sang anak.


2. Hadits Shahih

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

"Tidak (sempurna) iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari no. 15 & Muslim no. 44)

Dalam hadits lain beliau bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

"Tiga perkara, barangsiapa memilikinya ia akan merasakan manisnya iman: (yang pertama) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…" (HR. Bukhari no. 16 & Muslim no. 43)

Jamaah rahimakumullah, kedua hadits ini adalah timbangan bagi hati kita: iman belum sempurna dan manisnya belum terasa selama masih ada yang lebih kita cintai daripada Allah dan Rasul-Nya — entah itu anak, orang tua, harta, ataupun diri sendiri. Itulah "Ismail" yang harus kita sembelih rasa kepemilikannya.


3. Qoul Ulama

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan: kedudukan khullah (kekasih Allah) tidak menerima sekutu. Tatkala kecintaan kepada Ismail mengambil tempat di hati Sang Khalil, Allah memerintahkan menyembelihnya. Dan ketika Ibrahim mendahulukan cinta Allah, tujuan itu telah tercapai — maka penyembelihan pun diangkat, sebab yang dimaksud adalah menyembelih Ismail dari hatinya, bukan membinasakannya.

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Orang yang terpenjara adalah orang yang hatinya terhalang dari Rabbnya, dan tawanan (sejati) adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya." (dinukil Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib) — Siapa yang hatinya dikuasai "Ismail"-nya, ialah tawanan itu.

Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari rahimahullah dalam Al-Hikam berkata: "Tidaklah engkau mencintai sesuatu (melebihi Allah) melainkan engkau menjadi hamba baginya, dan Allah tidak menginginkan engkau menjadi hamba bagi selain-Nya."


4. Kisah Tauladan: Ketika yang Tercinta Diserahkan

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Lihatlah akhir kisah agung itu: ketika ayah dan anak sama-sama berserah diri, dan Ibrahim telah membaringkan Ismail di atas pelipisnya, Allah berseru bahwa ia telah membenarkan mimpinya. Lalu turunlah tebusan:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 107)

Para sahabat pun meneladani jalan ini. Ketika turun ayat:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92)

Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu segera menemui Rasulullah ﷺ dan berkata: "Hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha'. Kini ia menjadi sedekah karena Allah; aku mengharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah." Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

بَخٍ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ

"Wah! Itulah harta yang benar-benar beruntung!" (HR. Bukhari no. 1461 & Muslim no. 998)

Subhanallah! Abu Thalhah menemukan "Ismail"-nya — kebun terbaik yang paling ia cintai — lalu ia "menyembelih" rasa memilikinya dengan menyerahkannya kepada Allah. Dan tidak ada yang dilepas karena Allah kecuali Allah ganti dengan yang lebih baik.

5. Siapakah "Ismail" Kita Hari Ini?

Jamaah rahimakumullah, setiap kita memiliki "Ismail" — sesuatu yang paling dicintai, yang berpotensi menyaingi cinta kepada Allah. Mari kita kenali:

Ismail Pertama: Harta dan Kekayaan. "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun: 9) Bila harta membuat kita lalai dari shalat, enggan berzakat, atau menghalalkan segala cara, itulah "Ismail" yang harus disembelih rasa memilikinya.

Ismail Kedua: Anak dan Keluarga. "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS. At-Taghabun: 15) Mencintai anak adalah fitrah; tetapi bila demi anak kita rela melanggar perintah Allah, cinta itu telah berubah menjadi fitnah.

Ismail Ketiga: Jabatan, Bisnis, dan Kenyamanan. "Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.'" (QS. At-Taubah: 24) Delapan hal yang dicintai manusia disebutkan dalam satu ayat; semuanya halal dimiliki, namun haram bila lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya.

Ismail Keempat: Ego dan Hawa Nafsu. "Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?" (QS. Al-Furqan: 43) Inilah "Ismail" yang paling tersembunyi: gengsi, amarah, dan keinginan diri yang enggan tunduk kepada kebenaran.

Jamaah rahimakumullah, menyembelih "Ismail" bukan berarti membuang harta, menelantarkan anak, atau meninggalkan pekerjaan. Yang disembelih adalah rasa kepemilikan: letakkan semua itu di tangan, jangan di hati. Bila Allah memintanya, kita rela melepasnya — dan seperti Ibrahim, yang dilepas karena Allah pasti Allah ganti dengan tebusan yang jauh lebih agung.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dari khutbah pertama dapat kita simpulkan tiga hal:

Pertama, perintah menyembelih Ismail bukan untuk menumpahkan darah, melainkan untuk menyembelih rasa kepemilikan di hati Ibrahim; ketika kerelaan itu terbukti, Allah menggantinya dengan tebusan yang agung.

Kedua, "Ismail" kita hari ini bisa berupa harta, anak, jabatan, bisnis, kenyamanan, hingga ego dan hawa nafsu — apa pun yang lebih kita cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, sembelihlah rasa memiliki itu: letakkan dunia di tangan, bukan di hati; sebab siapa yang melepas sesuatu karena Allah, Allah pasti menggantinya dengan yang lebih baik.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

Ya Allah, curahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang ingkar.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

أَقِمِ الصَّلَاةَ.