← Kembali ke Materi
Tafsir

Tafsir QS. Al-Insyirah: 5-6 — Satu Kesulitan Tak Akan Mengalahkan Dua Kemudahan

Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-07

Tafsir QS. Al-Insyirah: 5-6 — Satu Kesulitan Tak Akan Mengalahkan Dua Kemudahan
Unduh PDF(30 KB)

Ayat Pilihan

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ۝ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)

Tafsir Para Ulama

1. Imam Ibnu Katsir (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim) menjelaskan bahwa Allah mengabarkan: bersama kesulitan pasti didapati kemudahan, kemudian Allah menegaskan kabar itu dengan mengulanginya. Kata al-'usr (kesulitan) yang disebut dengan bentuk ma'rifah (definitif) berarti satu kesulitan yang sama, sedangkan yusran (kemudahan) berbentuk nakirah sehingga maknanya berulang — karena itulah "satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan."

2. Imam Ath-Thabari (Jami' Al-Bayan). Dalam tafsir beliau dinukil perkataan sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu: "Seandainya kesulitan itu masuk ke dalam sebuah lubang, niscaya kemudahan akan datang dan ikut masuk bersamanya." Kemudahan itu begitu dekat, seakan menempel pada kesulitan yang sedang dihadapi.

3. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menyebut dua ayat ini sebagai berita gembira yang besar: setiap kali ada kesulitan dan kesusahan, ia selalu disertai kemudahan — sampai-sampai seandainya kesulitan itu terjebak di lubang biawak sekalipun, kemudahan akan masuk dan mengeluarkannya.

Hadits yang Berkaitan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi; bagian dari hadits Arba'in An-Nawawiyah no. 19)

Poin-Poin Penting

  • Allah memakai kata ma'a (bersama), bukan ba'da (sesudah) — isyarat bahwa kemudahan itu sangat dekat, hadir mengiringi kesulitan, bukan menunggu lama.

  • Secara kaidah bahasa Arab, kesulitan yang disebut dua kali adalah satu kesulitan yang sama, sedangkan kemudahannya dua yang berbeda: kemudahan di dunia dan di akhirat.

  • Ayat ini turun untuk menguatkan Rasulullah di tengah beratnya tekanan dakwah di Makkah — penolakan, cemoohan, dan pemboikotan.

  • Janji ini berlaku umum bagi seluruh umat: selama kesulitan dihadapi dengan iman, sabar, dan ikhtiar, kemudahan pasti Allah sisipkan.

  • Putus asa tidak punya tempat dalam kamus orang beriman, karena ia tahu skenario Allah selalu berakhir baik.

Kisah Hikmah

Lihatlah perjalanan Nabi Yusuf 'alaihissalam yang Allah ceritakan utuh dalam satu surat. Dibuang saudara-saudaranya ke dasar sumur, dijual sebagai budak, difitnah, lalu dipenjara bertahun-tahun padahal tidak bersalah. Satu kesulitan datang beruntun — tapi di balik semuanya, Allah sedang menyiapkan dua kemudahan: Yusuf diangkat menjadi pembesar Mesir yang menyelamatkan negeri dari kelaparan, dan dipersatukan kembali dengan ayah serta keluarganya. Beliau sendiri yang merangkum rahasianya: "Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf [12]: 90)

Refleksi

Mungkin saat ini kamu sedang di fase "sumur"-nya Yusuf: usaha seret, skripsi mandek, keluarga diuji, atau doa yang rasanya belum dijawab. Ayat ini bukan sekadar kata-kata penghibur — ini janji Allah yang diulang dua kali agar kita tidak ragu sedikit pun. Tugas kita bukan mempertanyakan kapan kemudahan datang, tapi memastikan diri tetap bersabar, bertakwa, dan berikhtiar saat ia datang. Karena satu kesulitan, sekali lagi, tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.

— DR. H. Andri Lupias Satedy, Lc., MA