← Kembali ke Materi
Khutbah Jumat

Karakter Manusia Dalam Menghadapi Ujian

Dr.KH. Andri Lupias Satedy, Lc., MA · 2026-06-05

KARAKTER MANUSIA DALAM MENGHADAPI UJIAN
Unduh PDF

KHUTBAH PERTAMA

Mukadimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Banyak orang menyangka bahwa sabar adalah puncak kebaikan ketika menghadapi takdir. Padahal di atas sabar masih ada derajat yang lebih tinggi. Maka khutbah kali ini membahas karakter-karakter manusia dalam menghadapi ujian — dari yang paling rendah hingga yang paling mulia — agar kita tahu karakter mana yang sepatutnya kita miliki.


1. Ayat Al-Qur'an dan Tafsirnya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Tidak ada musibah yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Taghabun: 11)

Jamaah yang dimuliakan Allah, para ulama tafsir mu'tabar menjelaskan ayat ini:

Pertama, Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'anil 'Azhim menukil penafsiran Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang firman "niscaya Allah memberi petunjuk kepada hatinya": yaitu seorang yang ditimpa musibah lalu ia mengetahui bahwa itu datang dari sisi Allah, maka ia pun ridha dan berserah diri. Inilah isyarat bahwa di atas sabar terdapat derajat ridha.

Kedua, Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam Jami'ul Bayan menjelaskan bahwa tidak ada musibah kecuali dengan kehendak dan ketetapan Allah. Barangsiapa beriman dan meyakini segala sesuatu dari Allah, niscaya Allah memberi petunjuk hatinya untuk mengucapkan istirja' dan menerima takdir dengan lapang.

Ketiga, Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an menerangkan bahwa Allah memberi taufik kepada hati orang beriman berupa keyakinan, kesabaran, dan keridhaan. Sebagian salaf berkata: hatinya menjadi tenang karena ia mengetahui segala sesuatu terjadi dengan ketentuan Allah — dan ketenangan itulah buah dari tingkatan iman yang tinggi.


2. Hadits Shahih

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

"Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Maka barangsiapa ridha (menerima), baginya keridhaan Allah; dan barangsiapa marah (membenci), baginya kemurkaan Allah." (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan, & Ibnu Majah)

Dalam hadits lain beliau bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

"Cobaan akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah, pada dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada lagi dosa padanya." (HR. Tirmidzi no. 2399, hasan sahih)

Jamaah rahimakumullah, hadits pertama dengan tegas membedakan dua tingkatan: ridha yang berbuah keridhaan Allah, dan kemarahan yang berbuah kemurkaan-Nya. Sedangkan hadits kedua menunjukkan buah dari kesabaran yang terus dijalani: terhapusnya dosa hingga seorang hamba berjumpa Allah dalam keadaan bersih.


3. Qoul Ulama

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa dalam menghadapi takdir, manusia bertingkat-tingkat: ada yang marah (terendah), ada yang sabar (menahan diri), lalu di atasnya ada yang ridha, dan yang tertinggi adalah yang bersyukur karena melihat hikmah dan karunia Allah di balik ujian.

Abu 'Ali Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: "Sabar adalah engkau tidak memprotes takdir, sedangkan ridha adalah engkau tidak merasa gelisah terhadap takdir." (dinukil Imam Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah) — Inilah pembeda halus antara dua tingkatan itu.

Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah mengisyaratkan bahwa ridha terhadap ketetapan Allah adalah kedudukan tertinggi yang dituju oleh orang-orang yang sabar; siapa yang ridha, hatinya tenang dalam segala keadaan.


4. Kisah Tauladan: Kesabaran Ummu Sulaim

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Teladan tingkatan sabar yang tinggi ditunjukkan oleh Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha, istri Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu.

Ketika putra mereka yang sedang sakit wafat saat Abu Thalhah sedang tidak di rumah, Ummu Sulaim tidak meratap. Ia menutupi jenazah anaknya, menyiapkan dirinya, dan baru menyampaikan kabar itu kepada suaminya dengan lembut, seraya berkata bahwa "titipan Allah telah diambil kembali oleh pemiliknya." Keduanya bersabar dan ridha. Maka tatkala peristiwa itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau mendoakan keberkahan bagi keduanya:

بَارَكَ اللَّهُ لَكُمَا فِي لَيْلَتِكُمَا

"Semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam kalian." (HR. Bukhari no. 1301 & Muslim no. 2144)

Subhanallah! Buah dari kesabaran dan keridhaan mereka, Allah karuniai keturunan yang diberkahi — di antaranya sembilan anak yang semuanya menjadi penghafal Al-Qur'an. Inilah keindahan tingkatan ridha: tidak sekadar menahan tangis, tetapi menerima dengan hati yang tenang.

5. Empat Karakter Manusia dalam Menghadapi Ujian

Jamaah rahimakumullah, inilah empat karakter manusia dalam menghadapi ujian — dari yang terendah hingga yang "paling keren" di sisi Allah:

Karakter 1 (Terendah) — Marah dan Berkeluh Kesah. "Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi (ragu); jika ia memperoleh kebajikan ia merasa puas, tetapi jika ia ditimpa suatu cobaan ia berbalik ke belakang." (QS. Al-Hajj: 11) Inilah tingkatan tercela: mengeluh, menyalahkan takdir, bahkan goyah imannya saat diuji.

Karakter 2 (Wajib) — Sabar, Menahan Diri. "Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan (penjagaan) Kami." (QS. At-Tur: 48) Menahan lisan dari keluhan dan hati dari marah, meski masih terasa berat. Ini kewajiban setiap mukmin.

Karakter 3 (Lebih Tinggi) — Ridha, Rela dan Tenang. "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai." (QS. Al-Fajr: 27-28) Hati tidak hanya menahan, tetapi benar-benar rela menerima ketetapan Allah dengan tenang dan lapang.

Karakter 4 (Tertinggi / Paling Keren) — Syukur atas Ujian. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7) Bahkan bersyukur atas musibah karena yakin di baliknya ada hikmah, penghapus dosa, dan pengangkat derajat. Inilah kedudukan tertinggi.

Jamaah rahimakumullah, maka jawaban atas pertanyaan "mana yang lebih keren?" adalah: syukur lebih tinggi daripada ridha, ridha lebih tinggi daripada sabar, dan sabar jauh lebih mulia daripada marah. Mulailah dari sabar, lalu naikkan hati kita menuju ridha dan syukur.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dari khutbah pertama dapat kita simpulkan tiga hal:

Pertama, dalam menghadapi ujian ada empat karakter manusia: yang marah (terendah dan tercela), yang sabar (kewajiban), yang ridha (lebih tinggi), dan yang bersyukur (puncak yang paling mulia).

Kedua, yang "paling keren" di sisi Allah adalah ridha dan syukur — saat hati tidak sekadar menahan, tetapi rela bahkan bersyukur melihat hikmah-Nya.

Ketiga, mulailah dari sabar dan latihlah hati kita untuk naik menuju ridha dan syukur, sebab itulah ciri jiwa muthma'innah yang Allah panggil untuk kembali kepada-Nya dengan ridha dan diridhai.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

Ya Allah, curahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang ingkar.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

أَقِمِ الصَّلَاةَ.